Posted by : Banana Harajuku Kamis, 15 Oktober 2026


10 Tips Public Speaking untuk Pelaku UMKM: Berbicara dengan Percaya Diri, Membangun Kepercayaan, dan Meningkatkan Penjualan

Oleh: Coach Dr. Arief Y. Rukmana, S.T., M.M.

Pernahkah Anda memiliki produk yang berkualitas, tetapi merasa bingung ketika harus menjelaskan keunggulannya kepada calon pelanggan?

Atau pernahkah Anda merasa gugup ketika diminta memperkenalkan usaha di depan banyak orang, melakukan presentasi bisnis, mengikuti bazar, atau menawarkan produk melalui siaran langsung di media sosial?

Jika pernah, Anda tidak sendirian.

Banyak pelaku UMKM memiliki produk yang bagus, ide bisnis yang menarik, dan semangat luar biasa untuk berkembang. Namun, ketika harus berbicara di depan orang lain, mereka sering kali merasa kurang percaya diri, takut salah bicara, atau kesulitan menyampaikan keunggulan produknya secara meyakinkan.

Padahal, dalam dunia bisnis, kemampuan berbicara bukan sekadar keterampilan tambahan. Public speaking dapat menjadi salah satu modal penting untuk memperkenalkan produk, membangun personal branding, memperluas jaringan, melakukan pitching, dan membuka peluang kerja sama.

Kabar baiknya, public speaking bukan bakat yang hanya dimiliki orang-orang tertentu. Kemampuan ini dapat dipelajari, dilatih, dan dikembangkan melalui kebiasaan sederhana.

Dalam konteks UMKM, tujuan public speaking bukanlah membuat kita terlihat paling pintar atau paling hebat. Tujuannya adalah membantu orang lain memahami apa yang kita tawarkan, merasakan manfaatnya, dan memiliki alasan untuk mempercayai usaha kita.

Berikut sepuluh tips public speaking yang dapat langsung dipraktikkan oleh pelaku UMKM.

1. Mulailah dengan memahami siapa yang mendengarkan Anda

Kesalahan yang sering terjadi ketika mempromosikan produk adalah terlalu fokus pada apa yang ingin kita sampaikan, tetapi kurang memperhatikan apa yang ingin diketahui oleh calon pelanggan.

Seorang penjual makanan mungkin sangat bangga dengan bahan baku dan proses produksinya. Namun, calon pelanggan bisa jadi lebih ingin mengetahui rasanya, porsinya, harganya, atau apakah produk tersebut cocok dijadikan oleh-oleh.

Karena itu, sebelum berbicara, tanyakan kepada diri sendiri: siapa audiens saya, apa kebutuhan mereka, dan informasi apa yang paling penting bagi mereka?

Contoh penerapan:

Jika Anda menjual makanan ringan kepada mahasiswa, sampaikan keunggulan yang relevan bagi mereka, seperti rasa, kemudahan dibawa, pilihan ukuran, dan harga yang sesuai anggaran.

Jika Anda sedang menawarkan produk kepada calon reseller, pembicaraan dapat berfokus pada margin keuntungan, sistem pemesanan, ketersediaan stok, dan dukungan promosi.

Produk yang sama dapat membutuhkan cara penyampaian yang berbeda untuk audiens yang berbeda.

Latihan sederhana: sebelum mempromosikan produk, tuliskan tiga hal yang paling mungkin ingin diketahui calon pelanggan Anda. Jadikan tiga hal tersebut sebagai inti pembicaraan.

Ingat, komunikasi yang baik bukan tentang seberapa banyak kita berbicara, melainkan seberapa relevan pesan kita bagi orang yang mendengarkan.

2. Gunakan kalimat pembuka yang menarik perhatian

Dalam public speaking, beberapa detik pertama dapat membantu menentukan apakah audiens tertarik untuk mendengarkan lebih lanjut.

Karena itu, hindari selalu memulai presentasi dengan penjelasan panjang tentang nama usaha, tahun berdiri, atau daftar produk.

Cobalah membuka pembicaraan dengan pertanyaan, masalah yang dekat dengan audiens, fakta yang relevan, atau cerita singkat.

Contoh pembukaan yang kurang menarik:

“Selamat pagi, saya pemilik usaha makanan ringan. Hari ini saya ingin memperkenalkan produk saya.”

Kalimat tersebut tidak salah, tetapi belum memberikan alasan kuat bagi audiens untuk terus mendengarkan.

Cobalah mengubahnya menjadi:

“Siapa di sini yang suka ngemil saat bekerja, tetapi sering bingung mencari camilan yang praktis dan punya rasa yang menyenangkan? Hari ini saya ingin memperkenalkan camilan yang mungkin bisa menjadi teman aktivitas Anda.”

Pembukaan ini mengajak audiens terlibat dan menghubungkan produk dengan kebutuhan mereka.

Anda juga dapat menggunakan pertanyaan seperti:

  • “Pernahkah Anda memiliki produk bagus, tetapi kesulitan membuat orang lain tertarik membelinya?”

  • “Tahukah Anda bahwa pelanggan bukan hanya membeli produk, tetapi juga mempertimbangkan manfaat dan kepercayaan?”

  • “Bagaimana jika cerita sederhana di balik usaha Anda justru menjadi alasan pelanggan memilih produk Anda?”

Latihan sederhana: buat tiga versi pembukaan untuk produk Anda: satu menggunakan pertanyaan, satu menggunakan cerita, dan satu menggunakan masalah pelanggan. Praktikkan semuanya, lalu pilih yang paling alami dan relevan.

3. Jangan hanya menjelaskan produk, ceritakan nilainya

Orang dapat dengan mudah menemukan informasi tentang produk. Namun, cerita yang jujur dan relevan dapat membantu mereka memahami mengapa produk tersebut layak dipertimbangkan.

Inilah pentingnya storytelling dalam promosi bisnis.

Misalnya, Anda menjual keripik pisang.

Anda bisa mengatakan:

“Produk kami adalah keripik pisang dengan beberapa pilihan rasa dan kemasan praktis.”

Informasi itu penting, tetapi masih terbatas pada deskripsi produk.

Anda dapat menyampaikannya dengan lebih menarik:

“Kami ingin menghadirkan camilan yang bisa menemani waktu santai, bekerja, atau berkumpul bersama keluarga. Karena itu, kami berusaha menjaga cita rasa, memperhatikan kualitas produk, dan menyediakan kemasan yang praktis agar pelanggan dapat menikmati camilan dengan nyaman.”

Narasi tersebut menghubungkan produk dengan manfaat dan pengalaman pelanggan. Pastikan setiap klaim sesuai dengan kondisi produk yang sebenarnya.

Untuk memudahkan, gunakan rumus berikut:

PRODUK → CERITA → NILAI → MANFAAT

  • Produk: Apa yang Anda jual?

  • Cerita: Mengapa produk itu dibuat?

  • Nilai: Apa yang ingin Anda hadirkan atau perjuangkan?

  • Manfaat: Apa yang diperoleh pelanggan?

Contoh lainnya, seorang perajin tas tidak hanya mengatakan bahwa tasnya dibuat secara manual. Ia dapat menjelaskan proses pengerjaan, perhatian terhadap detail, dan alasan memilih desain tertentu, selama semua itu benar-benar sesuai dengan proses produksinya.

Cerita tidak harus dramatis. Kejujuran, pengalaman, dan konsistensi sering kali jauh lebih kuat daripada kata-kata yang berlebihan.

4. Kuasai bahasa tubuh dan kontak mata

Public speaking bukan hanya tentang kata-kata. Cara kita berdiri, melihat audiens, menggerakkan tangan, dan mengatur ekspresi turut memengaruhi bagaimana pesan diterima.

Bayangkan seseorang memperkenalkan produknya dengan suara yang hampir tidak terdengar, tubuh membungkuk, dan terus-menerus melihat catatan. Meskipun produknya bagus, audiens mungkin kesulitan menangkap pesan yang disampaikan.

Sebaliknya, postur yang nyaman, suara yang jelas, dan ekspresi yang sesuai dapat membantu presentasi terasa lebih meyakinkan.

Berikut beberapa hal yang dapat Anda praktikkan:

Pertama, berdirilah dengan nyaman. Jaga postur tetap tegak tanpa membuat tubuh kaku. Jika berbicara sambil duduk, posisikan tubuh agar tetap nyaman dan mudah dilihat audiens.

Kedua, arahkan pandangan kepada audiens. Jika berbicara di hadapan banyak orang, alihkan pandangan secara alami ke beberapa bagian ruangan. Dalam pertemuan daring, sesekali lihat kamera ketika menyampaikan pesan penting.

Ketiga, gunakan gerakan tangan yang wajar. Gerakan tangan dapat membantu menekankan poin, tetapi tidak perlu dibuat-buat.

Keempat, sesuaikan ekspresi dengan pesan. Ketika menceritakan perjuangan membangun usaha, gunakan ekspresi yang tulus. Ketika menjelaskan manfaat produk, tunjukkan antusiasme yang wajar.

Tidak semua orang harus menggunakan bahasa tubuh yang sama. Sesuaikan dengan kenyamanan, kebutuhan, dan kemampuan masing-masing.

Latihan sederhana: rekam video selama 60 detik saat Anda memperkenalkan produk. Perhatikan apakah suara terdengar jelas, ekspresi terlihat alami, dan gerakan tubuh membantu memperjelas pesan.

Jangan langsung menghakimi diri sendiri ketika melihat rekaman pertama. Gunakan rekaman itu sebagai bahan evaluasi untuk menjadi lebih baik.

5. Atur suara, tempo, dan jeda

Berbicara terlalu cepat sering terjadi ketika seseorang gugup. Akibatnya, kata-kata menjadi kurang jelas dan audiens kesulitan mengikuti penjelasan.

Sebaliknya, berbicara terlalu pelan tanpa variasi dapat membuat presentasi terasa monoton.

Kuncinya bukan berbicara sekeras atau secepat mungkin, melainkan memastikan pesan dapat didengar dan dipahami.

Cobalah tiga teknik berikut.

  • Artikulasi: ucapkan kata dengan jelas, terutama ketika menyebut nama produk, harga, manfaat, dan informasi penting.

  • Tempo: perlambat pembicaraan ketika menjelaskan hal yang penting. Anda tidak harus menyelesaikan seluruh materi dalam satu tarikan napas.

  • Jeda: berhentilah sejenak setelah menyampaikan pesan utama agar audiens memiliki waktu untuk memahami informasi tersebut.

Contohnya:

“Produk kami dibuat dengan memperhatikan kualitas bahan. [Jeda] Kami ingin pelanggan tidak hanya membeli sekali, tetapi juga merasa puas dan bersedia kembali.”

Jeda bukan tanda bahwa Anda lupa berbicara. Jeda dapat membantu memberi penekanan pada pesan.

Latihan sederhana: bacakan deskripsi produk selama satu menit. Rekam suara Anda, lalu dengarkan kembali. Apakah setiap kata terdengar jelas? Apakah ada bagian yang terlalu cepat? Apakah pesan utamanya mudah dipahami?

6. Gunakan struktur presentasi yang sederhana dan mudah diingat

Tidak semua presentasi membutuhkan banyak slide atau penjelasan panjang. Untuk memperkenalkan produk, Anda justru memerlukan struktur yang ringkas agar pesan tidak melebar ke mana-mana.

Salah satu pola yang bisa digunakan adalah:

HOOK → MASALAH → SOLUSI → NILAI → BUKTI → AJAKAN

Berikut contoh penerapannya untuk usaha camilan.

Hook: “Suka ngemil saat bekerja, tetapi ingin camilan yang praktis?”

Masalah: “Kadang kita membutuhkan camilan yang mudah dibawa untuk menemani aktivitas sehari-hari.”

Solusi: “Kami menghadirkan keripik pisang dengan pilihan rasa yang dapat dinikmati saat santai maupun bekerja.”

Nilai: “Kami berusaha menjaga kualitas produk dan memberikan pilihan kemasan yang praktis.”

Bukti: “Silakan lihat kemasannya dan cicipi produknya. Kami juga dapat menjelaskan bahan serta proses produksinya.”

Ajakan: “Jika Anda tertarik, silakan mencoba satu kemasan terlebih dahulu atau menghubungi kami untuk informasi pemesanan.”

Gunakan bukti yang benar-benar tersedia, seperti sampel produk, dokumentasi proses produksi, testimoni autentik, atau informasi bahan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Struktur ini dapat digunakan untuk presentasi di bazar, pertemuan komunitas, pitching kepada calon mitra, video promosi, maupun live selling.

Latihan sederhana: siapkan presentasi produk selama 60 detik dengan enam bagian tersebut. Batasi setiap bagian menjadi satu atau dua kalimat agar pembicaraan tetap fokus.

7. Bangun kepercayaan melalui kejujuran, bukan janji berlebihan

Dalam bisnis, berbicara dengan meyakinkan bukan berarti harus menjanjikan sesuatu yang belum tentu dapat dipenuhi.

Justru, salah satu fondasi komunikasi yang kuat adalah kejujuran.

Jangan mengklaim produk paling unggul jika tidak memiliki dasar yang jelas. Jangan menjanjikan pengiriman pada hari yang sama jika kapasitas operasional belum memungkinkan. Jangan menggunakan testimoni yang dibuat-buat hanya untuk meyakinkan calon pembeli.

Kepercayaan dibangun ketika perkataan sesuai dengan kenyataan.

Jika calon pelanggan bertanya tentang sesuatu yang belum Anda ketahui, tidak masalah untuk menjawab:

“Terima kasih atas pertanyaannya. Untuk informasi tersebut, saya perlu memeriksa kembali agar jawaban yang saya berikan akurat.”

Jawaban seperti ini menunjukkan tanggung jawab, bukan kelemahan.

Jika produk memiliki kekurangan atau batasan, jelaskan dengan proporsional dan tawarkan solusi yang memang tersedia.

Misalnya, jika stok terbatas, Anda dapat menjelaskan kapan stok berikutnya diperkirakan tersedia. Jika produk dibuat berdasarkan pesanan, sampaikan estimasi waktu pengerjaannya dengan jelas.

Latihan sederhana: tuliskan tiga keunggulan produk yang dapat dibuktikan dan dua pertanyaan sulit yang mungkin diajukan pelanggan. Latih jawaban yang jujur, jelas, dan tidak defensif.

Ingat, tujuan komunikasi bisnis bukan sekadar membuat pelanggan membeli hari ini, melainkan membangun alasan agar mereka bersedia mempercayai usaha Anda dalam jangka panjang.

8. Belajar mendengarkan, bukan hanya berbicara

Banyak orang menganggap public speaking hanya berkaitan dengan kemampuan menyampaikan pesan. Padahal, komunikasi bisnis yang efektif juga membutuhkan kemampuan mendengarkan.

Ketika calon pelanggan bertanya, jangan terburu-buru memotong pembicaraan atau langsung menawarkan produk lain. Dengarkan terlebih dahulu sampai Anda memahami kebutuhan mereka.

Misalnya, pelanggan bertanya, “Apakah produk ini cocok untuk dijadikan oleh-oleh?”

Daripada langsung menjelaskan seluruh varian produk, Anda dapat menjawab:

“Bisa kami bantu pilihkan. Apakah Bapak atau Ibu membutuhkan kemasan untuk oleh-oleh keluarga, acara kantor, atau jumlah yang lebih banyak?”

Pertanyaan lanjutan membantu Anda memahami kebutuhan pelanggan sebelum memberikan rekomendasi.

Gunakan tiga langkah sederhana:

  1. Dengarkan pertanyaan sampai selesai.

  2. Pastikan Anda memahami kebutuhan yang dimaksud.

  3. Berikan jawaban yang relevan dan mudah dipahami.

Dalam menghadapi keluhan, dengarkan terlebih dahulu, tunjukkan empati, klarifikasi masalah, lalu jelaskan solusi yang dapat dilakukan.

Contohnya:

“Terima kasih sudah menyampaikan hal ini. Mohon maaf atas ketidaknyamanannya. Boleh kami mengetahui lebih lanjut bagian mana yang tidak sesuai, agar kami dapat memeriksa dan membantu mencari solusi?”

Hindari menyalahkan pelanggan sebelum memahami situasinya.

Latihan sederhana: ajak seorang teman melakukan simulasi sebagai calon pelanggan. Minta ia mengajukan tiga pertanyaan tentang produk Anda. Tugas Anda bukan langsung menjual, melainkan mendengarkan dan memberikan jawaban yang sesuai.

Kemampuan mendengarkan akan membantu Anda memahami pelanggan sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan.

9. Jangan takut gugup, siapkan diri dan terus berlatih

Salah satu hambatan terbesar dalam public speaking adalah keinginan untuk tampil sempurna sejak awal.

Ada orang yang menunda presentasi karena merasa belum siap. Ada yang terlalu menghafal seluruh kalimat sehingga panik ketika lupa satu bagian. Ada pula yang merasa tidak memiliki bakat berbicara karena penampilan pertamanya belum memuaskan.

Padahal, kemampuan berbicara berkembang melalui proses.

Anda tidak harus menghafal seluruh naskah. Cukup pahami alur pembicaraan dan beberapa pesan utama yang ingin disampaikan.

Sebelum tampil, lakukan persiapan sederhana:

  • Pahami tujuan presentasi Anda.

  • Tuliskan tiga pesan utama.

  • Latih pembukaan dan penutupan.

  • Periksa produk, alat bantu, atau materi yang diperlukan.

  • Ambil napas dengan tenang dan berbicara pada tempo yang nyaman.

Jika tiba-tiba lupa kalimat, berhentilah sejenak. Lihat catatan singkat jika diperlukan, kemudian lanjutkan dengan bahasa Anda sendiri.

Audiens umumnya lebih membutuhkan pesan yang jelas daripada penampilan yang tanpa cela.

Anda juga dapat membangun keberanian secara bertahap. Mulailah memperkenalkan produk kepada satu orang, kemudian kepada kelompok kecil, lalu berlatih presentasi di komunitas atau melalui video singkat.

Jangan membandingkan tahap awal Anda dengan orang yang telah bertahun-tahun berlatih.

Latihan sederhana selama tujuh hari:

  • Hari 1: perkenalkan diri selama 30 detik.

  • Hari 2: jelaskan produk selama 60 detik.

  • Hari 3: ceritakan alasan Anda memulai usaha.

  • Hari 4: jelaskan tiga manfaat utama produk.

  • Hari 5: simulasi menjawab pertanyaan pelanggan.

  • Hari 6: rekam video promosi berdurasi 60–90 detik.

  • Hari 7: evaluasi rekaman dan ulangi bagian yang masih perlu diperbaiki.

Lakukan sesuai kemampuan dan kondisi Anda. Jika belum nyaman berbicara di depan kamera, mulailah dengan latihan suara atau percakapan langsung.

Kepercayaan diri tidak harus muncul sekaligus. Yang penting, Anda memiliki kesempatan untuk terus berkembang.

10. Tutup pembicaraan dengan ajakan yang jelas

Presentasi yang baik tidak berhenti hanya karena semua informasi telah disampaikan. Audiens juga perlu memahami langkah berikutnya yang dapat mereka lakukan.

Dalam pemasaran, bagian ini dikenal sebagai call to action atau CTA.

Tanpa ajakan yang jelas, calon pelanggan mungkin tertarik, tetapi tidak mengetahui bagaimana cara melanjutkan interaksi.

Karena itu, sesuaikan penutupan dengan tujuan komunikasi Anda.

Jika tujuannya penjualan, Anda dapat mengatakan:

“Jika ingin mencoba produk ini, silakan pilih varian yang paling Anda sukai. Kami siap membantu proses pemesanannya.”

Jika tujuannya memperluas jaringan, Anda dapat mengatakan:

“Bagi rekan-rekan yang ingin berdiskusi tentang peluang reseller atau kerja sama distribusi, saya terbuka untuk melanjutkan percakapan setelah sesi ini.”

Jika tujuannya membangun interaksi di media sosial, Anda dapat mengatakan:

“Menurut Anda, varian mana yang paling menarik untuk dicoba? Silakan tuliskan pilihan Anda di kolom komentar.”

Jika tujuannya pitching, penutupan dapat berisi permintaan yang spesifik:

“Kami berharap dapat menjadwalkan pertemuan lanjutan untuk membahas peluang kerja sama dan skema distribusi yang sesuai.”

Ajakan tidak harus agresif. Sampaikan dengan sopan, jelas, dan sesuai dengan kebutuhan audiens.

Latihan sederhana: siapkan tiga versi penutupan: untuk penjualan langsung, untuk networking, dan untuk presentasi kerja sama. Pilih salah satu sesuai tujuan Anda setiap kali berbicara.

Sebab, komunikasi yang baik bukan hanya membuat orang tertarik mendengarkan. Komunikasi yang baik juga membantu mereka memahami apa yang dapat dilakukan setelah mendengarkan.


Bonus: Formula 5S Presentasi Produk

Untuk membantu pelaku UMKM mengingat poin-poin penting di atas, gunakan formula 5S Presentasi Produk berikut.

1. SEE — Buat audiens memperhatikan.

Gunakan pembukaan yang relevan, pertanyaan yang menarik, atau perlihatkan produk secara langsung.

2. SAY — Sampaikan pesan dengan jelas.

Jelaskan siapa Anda, apa produk yang ditawarkan, dan manfaat utama yang perlu diketahui audiens.

3. STORY — Ceritakan makna di balik produk.

Bagikan cerita yang autentik tentang proses, nilai, pengalaman, atau alasan Anda membangun usaha.

4. SELL VALUE — Tunjukkan nilai yang diterima pelanggan.

Jelaskan manfaat, keunggulan yang dapat dibuktikan, dan alasan produk tersebut relevan dengan kebutuhan pelanggan.

5. START ACTION — Ajak audiens mengambil langkah berikutnya.

Berikan ajakan yang jelas, misalnya mencoba produk, menghubungi Anda, mengikuti akun bisnis, memesan, atau menjadwalkan pertemuan.

Formula ini bukan aturan kaku yang harus selalu digunakan dengan urutan yang sama. Anggaplah sebagai panduan agar presentasi Anda lebih terarah dan mudah dipraktikkan.

Tantangan Praktik: Presentasikan Produk Anda dalam 60 Detik

Sekarang, jangan berhenti pada membaca tips. Ambil satu produk yang sedang Anda jual, lalu praktikkan.

Gunakan panduan berikut untuk menyiapkan presentasi singkat.

Nama produk: Apa nama produk yang Anda tawarkan?

Masalah pelanggan: Kebutuhan apa yang ingin Anda bantu penuhi?

Keunggulan: Apa yang membuat produk Anda relevan bagi pelanggan?

Cerita: Mengapa produk ini dibuat dan nilai apa yang ingin Anda hadirkan?

Bukti: Apa yang dapat Anda tunjukkan untuk mendukung penjelasan Anda?

Ajakan: Apa langkah berikutnya yang Anda harapkan dari audiens?

Setelah itu, rekam presentasi Anda selama 60 detik. Dengarkan kembali dan periksa tiga hal: apakah pesan Anda mudah dipahami, apakah cerita Anda terasa autentik, dan apakah ajakan Anda jelas?

Ulangi latihan tersebut sampai Anda merasa lebih nyaman.

Tidak perlu menunggu produk sempurna atau kemampuan berbicara sempurna untuk memulai. Anda dapat belajar sambil menjalankan usaha, memperbaiki cara penyampaian berdasarkan respons pelanggan, dan terus mengembangkan kemampuan seiring bertambahnya pengalaman.

Penutup: Produk Anda Layak Didengar, Cerita Anda Layak Diceritakan

Sebagai pelaku UMKM, Anda mungkin tidak memiliki anggaran promosi sebesar perusahaan besar. Anda mungkin belum memiliki tim pemasaran profesional atau pengalaman presentasi yang panjang.

Namun, Anda memiliki sesuatu yang sangat berharga: pengalaman membangun usaha, pengetahuan tentang produk, pemahaman terhadap pelanggan, dan cerita yang hanya Anda sendiri dapat sampaikan dengan autentik.

Jangan biarkan semua nilai tersebut berhenti di dalam diri Anda.

Belajarlah menyampaikan manfaat produk dengan jelas. Berlatihlah berbicara dengan percaya diri. Dengarkan pelanggan dengan sungguh-sungguh. Bangun hubungan melalui komunikasi yang jujur. Dan jangan takut memperbaiki diri setiap kali memperoleh pengalaman baru.

Ingatlah, public speaking bukan tentang menjadi orang yang paling banyak berbicara. Public speaking adalah tentang kemampuan menyampaikan pesan yang tepat, kepada orang yang tepat, dengan cara yang membuat pesan itu dipahami dan dipercaya.

Karena di balik produk yang baik, ada nilai yang perlu dijelaskan.

Di balik usaha yang dibangun, ada perjuangan yang layak dihargai.

Dan di balik keberanian seseorang untuk mulai berbicara, bisa jadi ada peluang baru yang selama ini belum pernah ia bayangkan.

Jangan hanya membuat produk agar dikenal. Ceritakan nilainya agar dipahami, bangun kepercayaan agar diingat, dan berikan alasan agar pelanggan memilih.

Belajar berbicara. Membangun kepercayaan. Memperluas peluang bisnis.

Coach Dr. Arief Y. Rukmana, S.T., M.M.
Lecturer | Entrepreneur | Business Coach

#PublicSpeakingUMKM #TipsPublicSpeaking #StorytellingBisnis #KomunikasiBisnis #UMKMNaikKelas #PersonalBranding #BusinessPitching #DigitalMarketing #BusinessCoach

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © COACH RUKMANA ARIEF - Blogger Templates - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -